Adalah kondisi yang merubah segalanya. Seperti yang sekarang dikenal "PANTURA" singkatan dari Pantai Tanah Abang Utara.
Dari melongok keramaian di Sungai Lematang tepatnya di Tanjungan seberang proyek mubazir milyaran rupiah pada hari minggu (4/10) itu ribuan orang mandi seperti di Pantai wisata.
Team BeritaPALI sengaja menyempatkan diri melihat kumpulan anak-anak, remaja, dan para orang tua dan ditingkahi wisata kemarau dengan sarana perahu penyeberangan dan pedagang musiman berbaur dalam sukacita.
Sempat takjub juga melihat ratusan kendaraan yang dijaga tukang parkir. Inilah sebuah hikmah dari kemarau panjang yang saat ini dipenuhi asap dari kebakaran hutan.
Seperti yang dikatakan Umar, salah seorang tetua masyarakat Tanah Abang Utara " inilah yang dikatakan tradisi alam. Sebab apa yang dikatakan bencana pada saat banjir hingga banyak rumah hanyut terendam bukanlah bencana Alam...." Ujar Umar mengisahkan.
"Rumah saya sebelum pindah kesebelah darat sana ada di tanjungan ditengah sungai lematang sebelah sana" imbuh Umar.
"Kami tidak berteriak minta tolong kepada pihak manapun. Karena memang konstur tanah ini dalam hitungan sekian puluh Tahun aliran sungai akan bergerak. Dan cirinya gampang, apabila ada tanjungan pasir maka dia akan bertambah dari tahun ke tahun menjadi dari daratan. Sementara diseberangnya terus akan mengalami erosi" jelas Umar yang sudah sangat faham perubahan Lematang dari masa ke masa.
Lihat saja kuburan puyang payu putat dan puyang dangku begitupun runah sudah ratusan yang pindah dari tahun ke tahun. Dan 30 tahun yang lalu tempat yang ditumbuhi kelapa itu (sekitar 300 meter diseberang ditunjuk umar red) adalah aliran sungai Lematang. Sekarang alirannya ada ditempat kita berdiri ini" jelas Umar lagi.
" Yang saya sesalkan proyek hampir puluhan miliar ini dianggap bencana alam, karena keluhan warga. Maka pemerintah menganggarkan nya dan menjadi proyek kemanusiaan. Namun hasilnya seperti yang kita lihat ini.
Lok budak kecek mbuat umah dai pasir dipinggir lematang nii.. Sekali bae diterjang ayek dem lenget bae duit sebanyak itu " kritik Umar dengan
bahasa khas Marga 4 Petulai-nya.
Jadi menurut Umar inilah yang dikatakan tradisi alam bukan bencana alam. Masyarakat Harus belajar jangan sampai kejadian biasa dipelintir sebagai bencana hingga menjadi proyek yang menghamburkan dana sia -sia (team investigasi BeritaPALI)
Teks : Nurul
Foto : Jagad, Rustam
Editor : Nurul