- Karena mempunyai visi dan misi yang sama untuk membangun PALI
| Ir. H. Muzakir Sai Sohar |
Ditemui di ruang kerjanya Senin (23/2), Bupati Muara Enim Ir. H. Muzakir Sai Sohar memberi pesan untuk semua warga PALI menjelang Pilkada serentak termasuk di Kabupaten PALI agar memilih pemimpin bukan karena ia menghamburkan uangnya tapi pilihlah pemimpin yang mau berkorban dan membangun daerah.
“Kalau Bupatinya tidak mau berkorban ya jangan jadi Bupati. Oleh karena itu masyarakat hendaknya memilih Bupati yang memihak kepada masyarakat.” Ungkap Cakuk, sapaan akrab Ir. H. Muzakir Sai Sohar.
Selain itu, Cakuk juga berpesan untuk semua calon yang akan bersaing di Pilkada nanti untuk tidak menggunakan “politik uang”. Karena hal tersebut tidak mencerminkan pemimpin yang baik.
“Kita sudah paham karakter masyarakat sekarang, jika calon tersebut tidak memberi uang dalam jumlah tertentu maka masyarakat tidak akan memilih calon tersebut. Paradigma yang seperti inilah yang harus dihilangkan, karena jika calon yang bersangkutan terpilih maka Ia akan balas dendam kepada masyarakat dengan cara korupsi.” Lanjut Cakuk.
Cakuk juga menyeruhkan agar masyarakat dapat mendalami karakter semua kandidat yang akan bersaing kelak karena masyarakat lebih tahu mana pemimpin yang baik. Ia mengatakan bahwa calon asal putra daerah yang besar di tanah orang kemudian mencalonkan diri jadi Bupati PALI dengan semboyan membangun PALI belum tentu calon pemimpin yang baik untuk masyarakat PALI.
“Para kandidat selalu mengatakan Mengenal dan Dikenal Masyarakat, padahal bukan pemimpin yang terkenal yang diinginkan masyarakat, tapi pemimpin yang tahu kebutuhan dan dekat dengan masyarakat.” Cetus Cakuk.
“Untuk pemimpin yang sudah mempunyai pengalaman sekian tahun adalah Heri Amalindo, tapi bagaimana kedekatannya dengan masyarakat itu masyarakat sendiri yang menilai.” Katanya.
Saat dimintai komentarnya mengenai calon yang diusung oelh Letkol. Purn. H. Anwar Mahakil, SH yaitu Riswandar, SH. MH, Cakuk mengunngkapkan bahwa hal tersebut relative.
“Sekarang bagaimana Riswandar dengan masyarakat dan masyarakat dengan Riswandar, karena untuk memenangkannya tidak mungkin kalau hanya menang di Desa Mangku Negara sendiri.” Ungkapnya.
“Tapi satu hal yang selalu saya junjung saat saya menandatangani surat keputusan untuk berpisah dengan Kabupaten PALI adalah rasa persatuan. Masyarakat jangan terbagi kedalam blok-blok tertentu karena hal tersebut dapat memicuh pada keributan dan jika hal tersebut terjadi tidak menutup kemungkinan Kabupaten PALI akan kembali ke Kabupaten induk, Muara Enim.” Ujar Cakuk.
Saat di tanya siapa pemimpin yang baik menurut Cakuk sendiri, ia menyebutkan bahwa Heri Amalindo dan Rizal Kenedi adalah calon pemimpin yang baik.
“Kita tahu kedua orang ini terkenal dekat dengan masyarakat. Jika Heri Amalindo dipasangkan dengan Rizal Kenedi maka akan lebih baik lagi, karena mereka memiliki visi dan misi yang sama untuk membangun PALI.” Cetus Cakuk.
“Saya juga sudah berbicara dengan teman-teman di DPD Golkar PALI bahwa Partai Golkar harus tahu diri, Partai Golkar tidak boleh mayoritas, tidak memaksakan diri untuk mengusung Calon sendiri tapi usunglah calon yang memang peduli kepada masyarakat, dan juga jangan mencalonkan orang yang tidak laku.” Ujarnya.
Ia menambahakan bahwa sekarang suara Golkar menjadi minoritas di PALI, jadi bagaimana usaha pendekatan DPD Golkar kepada calon yang akan diusung dan pendekatan kepada masyarakat.
“Laku dak suaro kamu koak-koak di tengah masyarakat.” Cetusnya.
“Dan lagi, saya mengharapkan agar DPD Golkar dapat mengundang semua kandidat untuk mengetahui apa saja visi dan misinya kedepan, dan usunglah kandidat yang memang mempunyai visi yang kuat utuk membangun PALI, jangan mengusung kandidat yang hanya karena banyak uangnya.” Lanjutnya.
Ditempat terpisah, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Selatan H. Rizal Kenedi, SH saat dimintai tanggapannya mengungkapkan jawaban singkat.
“Kalau itu yang terbaik untuk PALI insyahAllah saya siap, tapi tolong sampaikan ke Pak Muzakir hal ini diberitahukan kepada Pak Alex juga.” Pungkas RK.(PL/Az)