Kesenian Kuda Lumping Karya Makmur Fasyach Talang Cepit
Pendopo, BeritaPALI -- Kuda Lumping adalah salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggambarkan sekelompok prajurit penunggang kuda. Kuda yang di gunakan dalam tarian ini bukanlah kuda sungguhan, namun kuda yang terbuat dari bambu yang di anyam dan dibentuk dan dihias menyerupai kuda. Kesenian Kuda Lumping biasanya dikaitkan dengan hal-hal mistik, karena pada saat melakukan pertunjukan para pemain mengalami kesurupan dan dicambuk.
Di Kabupaten PALI sendiri, ada salah satu kelompok seni Kuda Lumping yang diberi nama “Kesenian Kuda Lumping Karya Makmur Fhasyach”.
Deni, pemimpin kelompok kesenian ini mengatakan, kelompoknya berdiri pada tahun 2012 dengan jumlah pemain lebih dari 40 dan dua orang pawang. Dikatakan Deni, kelompok kuda lumpingnya berbeda dengan kuda lumping biasanya, karena tidak hanya menampilkan kesenian Daerah Jawa saja.
“Kuda lumping pada umumnya hanya menampilkan kesenian Kuda Lumping dan Barong, namun pada kelompok kita, selain ada kesenian tersebut, kita juga menampilkan pocong, kuntilanak dan manusia pedang selain itu kita juga ada vampir yaitu hantu khas negara China,” papar Apek, sapaan akrab Deni.
Lebih jauh Apek mengatakan, untuk dapat ikut tampil para pemain harus berlatih. “Setelah berlatih satu bulan, nanti akan diberi pegangan untuk mereka (pemain Kuda Lumping, red),” kata Apek.
Di Kabupaten PALI sendiri, ada salah satu kelompok seni Kuda Lumping yang diberi nama “Kesenian Kuda Lumping Karya Makmur Fhasyach”.
Deni, pemimpin kelompok kesenian ini mengatakan, kelompoknya berdiri pada tahun 2012 dengan jumlah pemain lebih dari 40 dan dua orang pawang. Dikatakan Deni, kelompok kuda lumpingnya berbeda dengan kuda lumping biasanya, karena tidak hanya menampilkan kesenian Daerah Jawa saja.
“Kuda lumping pada umumnya hanya menampilkan kesenian Kuda Lumping dan Barong, namun pada kelompok kita, selain ada kesenian tersebut, kita juga menampilkan pocong, kuntilanak dan manusia pedang selain itu kita juga ada vampir yaitu hantu khas negara China,” papar Apek, sapaan akrab Deni.
Lebih jauh Apek mengatakan, untuk dapat ikut tampil para pemain harus berlatih. “Setelah berlatih satu bulan, nanti akan diberi pegangan untuk mereka (pemain Kuda Lumping, red),” kata Apek.
“Semua pertunjukan yang kita tampilkan tidak ada maksud lain selain untuk hiburan,” lanjutnya.
Diungkapkan Apek, kelompok kuda lumping miliknya sudah sering tampil di beberapa event, baik itu acara khitanan, pernikahan sampai acara seremonial yang diselenggarakan oleh Pemkab PALI. “Saat tampil di Gelora November, pak Heri (Bupati PALI, red) pernah mencoba manusia pedang,” tukas Apek.
Pria keturunan Tionghoa ini berharap agar pemerintah dapat membantu mempertahankan salah satu kesenian khas Indonesia ini. “Kita saat ini kekurangan alat musik berupa gamelan, gong dan sound systemnya serta pakaian untuk pemain,” ungkapnya.
Lebih jauh Apek mengatakan, jika masyarakat ingin ikut bergabung dengan kelompoknya bisa datang langsung ke kediamannya di Jl Kresnan Talang Cepit Kelurahan Talang Ubi Selatan Kecamatan Talang Ubi - PALI setiap sore.
Untuk pemain wanita jelas Apek, kelompok Kuda Lumpingnya memiliki 12 pemain yang dilatih oleh anaknya, Nia Yulianti SE.(az/pl)

