| Salah satu contoh hasil kerajinan tangan dari sampah |
Daur
ulang adalah proses untuk
menjadikan suatu bahan bekas menjadi bahan baru dengan tujuan mencegah adanya sampah
yang sebenarnya dapat menjadi sesuatu yang berguna, mengurangi penggunaan bahan
baku yang baru, mengurangi penggunaan energi, mengurangi polusi, kerusakan
lahan, dan emisi gas rumah kaca jika dibandingkan dengan proses pembuatan
barang baru. Daur ulang adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat
yang terdiri atas kegiatan pemilahan, pengumpulan, pemprosesan, pendistribusian
dan pembuatan produk/material bekas pakai, dan komponen utama dalam manajemen
sampah modern dan bagian ketiga dalam proses hierarki sampah 4R (Reduce, Reuse,
Recycle, and Replace).
Dari
definisi tersebutlah muncul sebuah kreaktifitas dari beberapa kelompok Ibu
Rumah Tangga (IRT) yang ada di Kabupaten PALI untuk membuat sebuah kerajinan
keranjang yang terbuat dari cup (cangkir) bekas minuman.
Banyaknya sampah terutama bekas minuman plastik membuat hati
IRT di Kab. PALI tergerak untuk mengurangi tumpukan sampah tersebut dengan cara
mendaur ulang dan dijadikan sesuatu yang lebih berguna dan bernilai ekonomis
tinggi. Semenjak ngetrend-nya tas
ini, ibu-ibu bahkan sampai anak-anak pun semakin semangat mengumpulkan
sampah-sampah gelas plastik bekas minuman seperti Mount**, Al*-Al*, Netr**,
Jellydri**, Te* Ge**s, Seg**r, dan gelas plastik bekas lainnya yang sejenis.
Semenjak itu pula gelas-belas plastik bekas itu tidak lagi dijual perkilo
tetapi per 100 buah. Betapa berharganya gelas-gelas plastik itu hingga seorang
ibu yang kesehariannya biasa hanya menyadap karet sekarang disibukkan oleh
aktifitas baru sebagai pengrajin “Cangkengan” (Penukal).
“Tas ini pak, saya jual seratus ribu untuk ukuran yang
kecil, kalu yang besar dari seratus lima puluh sampai dua ratus ribu!”. Ungakap
IRT yang tidak mau disebutkan namanya.
Harga yang sangat fantastis di tengah kondisi turunnya harga
karet saat ini.
“Iya, emang mahal soalnya bikinnya lama, seminggu baru
jadi”. Lanjutnya.
Jadi penasaran, gimana cara buatnya?.
Ia menjelaskan, bahwa cara pembuatan kerajinan tersebut
sangat mudah, gelasnya yang dikumpulkan digunting dan diambil bagian kerasnya saja,
bagian paling atasnya. Kalau sudah digunting barulah dianyam dan dirangkai
dengan senar.
Semua orang sebenarnya dapat membuatnya sendiri jika mau.
Terlalu mudah katanya, asalkan melihat sekali saja caranya pasti bisa.
Benarkah? Mudah memang, hanya saja waktunya yang lama. Itulah sebabnya tas hand made dari sampah gelas plastick ini
menjadi mahal. Dengan kreatifitas yang ada ini, semoga saja akan ada lagi
produk-produk lainnya yang diciptakan dari sampah. Dengan begitu, sampah-sampah
berserakan yang sebenarnya dapat diolah kembali akan menjadi berkurang.