Kondisi Jalan Desa Tanjung Baru - Prabumenang yang sebagian badan jalannya tertutup oleh gulma/semak. (14/5)
PALI, BeritaPALI -- Kiranya perlu pihak PU Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan, PALI maupun kabupaten MUBA memperhatikan keselamatan para penendara yang melintasi jalan Belimbing - Sekayu. Dikarenakan penyempitan badan jalan akibat tumbuhan gulma dan semak di sepanjang jalan tersebut. Hal ini berdasarkan hasil investigasi tim BeritaPALI yang menyusuri jalan tersebut pada Sabtu (14/5).
Seperti diungkap oleh Semar (41) warga Desa Tempirai, salah seorang pengendara yang kebetulan melintas di jembatan Raja Jaya kecamatan Penukal. Menurut dirinya kondisi gulma atau semak-semak tersebut sudah selayaknya segera dibersikan oleh pihak PU BM karena hampir menutupi sebagian besar badan jalan, terutama di tempat-tempat yang cenderung membahayakan pengendara seperti di jembatan Raja Jaya dan Desa Tanjung Baru.
"Tolong nia sampai ke di wang pucuk tu, kalu dekade dak getek anggarannye nebas pinggir jalan ikak. Idak nganju mubil ataupun motor bakal tumburan aman cak ikaklah keadaan jalan kak," ujar Semar dengan dialek Penukalnya.
Seperti diungkap oleh Semar (41) warga Desa Tempirai, salah seorang pengendara yang kebetulan melintas di jembatan Raja Jaya kecamatan Penukal. Menurut dirinya kondisi gulma atau semak-semak tersebut sudah selayaknya segera dibersikan oleh pihak PU BM karena hampir menutupi sebagian besar badan jalan, terutama di tempat-tempat yang cenderung membahayakan pengendara seperti di jembatan Raja Jaya dan Desa Tanjung Baru.
"Tolong nia sampai ke di wang pucuk tu, kalu dekade dak getek anggarannye nebas pinggir jalan ikak. Idak nganju mubil ataupun motor bakal tumburan aman cak ikaklah keadaan jalan kak," ujar Semar dengan dialek Penukalnya.
Banyaknya gulma/semak di Jembatan Raja Jaya yang menghalangi penglihatan pengendara
Sementara menurut Mat Nanung (71), mantan Penggawo Dusun Babat Marga Penukal di era tahun 70an menyampaikan kepada BeritaPALI, "Kalu di jaman Margo dulu, name e ikak tebas bayang. Nah oleh pemerintah atau wang pucuk situ, tebas bayang kak dana e diserahke di Keriah atau aman jaman mengari name e Kades masing-masing dusun. Dengan care itu ade penekanan bahwa jalan tu harus lantang, pacak bae sen tebas bayang tu di upahke langsung atau dibangunke di dusun kemudian masyarakat gotong royong nebas bayang," ujar Nanung.
Lain halnya lagi dengan apa yang diungkapkan oleh Anto Kresek (35) salah seorang pengurus LSM yang ada di PALI. Dirinya mengkritik bahwa Gubernur Sumsel; Alex Noerdin, menjalankan politik mecusuar.
Lain halnya lagi dengan apa yang diungkapkan oleh Anto Kresek (35) salah seorang pengurus LSM yang ada di PALI. Dirinya mengkritik bahwa Gubernur Sumsel; Alex Noerdin, menjalankan politik mecusuar.
"Pak Alex saat ini menjalankan politik mercusuar. Artinya beliau tampak sukses menjalankan misi pembangunan di Sumsel ini. Namun kenyataannya infrastruktur jalan yang merupakan tanggung jawabnya dari jembatan Sekayu menuju ke Simpang Belimbing, di samping badan jalan tertutup oleh gulma atau semak kemudian jalan-jalan tersebut sudah banyak hancur dan berlubang, akibat dari pembiaran armada perusahaan batu bara dan kayu industri serta perusahaan lainnya melintas tanpa dispensasi serta melebihi Muatan Sumbu Terberat (MST) yang telah ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan,” papar Anto.
Hal lain menurut Anto, pemerintah entah apakah memang dibodohi oleh para kontraktor atau mungkin ada kerjasama membangun jalan dengan mengurangi spek, bahan proyek atau singkatnya menggunakan perusahaan yang alatnya kurang lengkap serta sengaja untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya.
“Akibatnya, mutu pembangunan jalan menjadi rendah, sehingga saat masih dalam tahap pembangunan jalan sudah rusak," ujar Anto emosi.(Tim BP)
