Batam – Di tengah kisruh keberangkatan plesiran ke tiga Negara; Singapura, Malaysia dan Thailand, guna memberikan penghargaan terhadap putra putri PALI yang dianggap berprestasi dengan mengunakan APBD 2014, berhembus kabar mengecewakan dari para peserta tersebut.
Sungguh miris apa yang alami peserta tersebut, harapan awal ingin bersenang-senang dengan melihat suasana Negara lain, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka malah terlantar. Bahkan biro perjalanan yang membawa mereka, dua kali menjadi buruan Negara Thailand dan Malaysia karena tidak membayar kewajibannya .
CV Andrian Tour and Travel Prabumulih, biro perjalanan yang mendapatkan "job" untuk mensukseskan perjalanan tersebut, terkesan asal-asalan. Bahkan, sangat memalukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Hal ini terkuak dari seorang peserta yang menghubungi PALI POST, dan menceritakan apa yang terjadi terhadap perjalanan mereka. Peserta tersebut merupakan salah satu putra PALI yang memenangkan lomba dalam rangka HUT PALI ke-1 beberapa waktu lalu, dan mendapatkan hadiah berupa tamasya ke tiga Negara itu.
Apa yang dialami peserta plesiran tersebut seperti : Fasilitas hotel yang tidak nyaman, satu kamar untuk 2 orang nyatanya digunakan 3 orang, sehingga ada yang harus tidur di lantai. Biaya makan yang pernah harus ditanggung sendiri, dan parahnya lagi ketika di Thailand Biro Perjalanan, CV Andrian Tour and Travel tidak membayar biaya makan seluruh peserta plesiran, hingga dikejar pihak restorant Thailand sampai ke Malaysia.
Tunggakan makan tersebut akhirnya dibayar oleh beberapa kepala Dinas/Badan, yang ikur serta keberangkatan secara patungan. Para peserta juga sempat terlantar di Johor (Malaysia) karena pihak penyedia bus melakukan mogok, agar panitia dapat melakukan pembayaran jasa bus. Walau akhirnya masih berangkat, dan ternyata ulah memalukan kembali terulang ketika biro perjalanan tersebut ternyata tidak membayar biaya carter bus yang digunakan, hingga akhirnya Polisi Diraja Malaysia bersama penyedia jasa bus melakukan pengejaran sampai ke Batam, menagih biaya carter tersebut.
"Entah mengapa hal ini bisa terjadi. Ini menunjukkan bahwa perusahaan agen perjalanan CV Andrian Tour and Travel Prabumulih tersebut tidak professional. Padahal dananya sangat besar mencapai kisaran Rp550 juta," ujar peserta tersebut via telepon dari Batam, yang mewanti-wanti agar jangan mempublikasikan namanya.
Ini menurutnya, sungguh sangat memalukan nama PALI pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Karena perjalanan yang seyogyanya bisa menuai manfaat maksimal, malah mencorengkan kejadian yang memalukan di Negara lain.[AB]