| tampak air bercampur bekas minyak mentah |
Penukal, BP
Bocornya pipa saluran minyak di Desa Babat Kecamatan Penukal, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), masih menyisakan luka bagi sebagian korban di lingkungan Dusun 3 Desa tersebut. Setidaknya dari 15 kepala keluarga yang terkena limbah minyak Pertamina PT. Mesitechmitra Purnabangun, masih ada enam KK yang belum mendapat ganti rugi.
Darmadi (42) warga setempat yang juga salah satu korban yang belum mendapat ganti rugi tersebut dikarenakan tidak sesuai dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan limbah tersebut.
"Dak sesuai dek ganti rugi duit segitu, satu hektar kebun sawit di belakang rumah jadi terendam dengan limbah minyak tersebut, sudah itu sumur aku juga terkeno limbah PT. Mesitech tersebut, laju dak pacak dipakek lagi sumur aku untuk beberapa waktu yang aku idak tahu," ungkapnya dengan nada tinggi.
Darmadi mengharapkan agar kerugian yang dialaminya tersebut dapat diganti sesuai dengan kerusakan yang diakibatkan limbah tersebut.
"Aku cuma minta ganti rugi yang sesuai soalnyo lah tervemar nian lingkungan kami," tutup Darmadi yang kesehariannya sebagai petani.
Arka Nurawi, Kepala Desa Babat membenarkan telah adanya ganti rugi tersebut yang menurutnya bukan sebuah ganti rugi tapi sebuah penghargaan dari PT. Mesitechmitra Purnabangun terhadap korban."Sudah etikat baik dari Mesitech dalam menanggulangi bocornya pipa tersebut, yaitu pipa yang bocor tersebut lah dilas, terus limbah yang meluap telah dibersihke. Bahkan uang penghargaan tersebut sudah diberi yaitu sebesar Rp 400.000,-/KK," jelas Arka.
Dia juga menambahkan untuk enam KK yang menolak mendapat uang penghargaan tersebut, salah satunya Darmadi, Darwin."Aku idak tahu kenapo mereka dak galak nerimo duit penghargaan tersebut. Tapi yang jelas kami tidak menghalangi warga untuk complen kepada perusahaan tersebut," tutup Arka.
Sebelumnya, kejadian bocornya pipa Pertamina dengan fendornya PT. Mesitechmitra Purnabangun terjadi pada Sabtu malam (13/12) kemarin. Namun penyelesaiannya jingga kini masih belum selesai. M Nasir, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Serampuh menyesalkan telah terjadinya kebocoran pipa yang berakibat pada meluapnya minyak yang mencemari lingkungan Dusun 3 Desa Babat. Menurut Nasir, itu semua akibat lalainya PT Mesitechmitra Purnabangun yang membiarkan pipa lama yang sudah karatan tersebut tidak diangkat sehingga terjadi kebocoran yang mencemari lingkungan setempat.
"Lah sudah diomongke samo pihak Mesitech agar mengganti pipa yang sudah buruk tersebut soalnyo pipa itu lah puluhan tahun," ujarnya.
Nasir berharap agar ke depannya Pertamina dalam hal ini PT. Mesitechmitra Purnabangun dapat lebih teliti lagi dalam melaksanakan operasi pekerjaannya di lingkungan Desa Babat dan sekitarnya sehingga tidak merusak dan mencemari lingkungan yang bisa mengganggu aktivitas warga.Terkait permasalah di atas, Muskinta Eynur, perwakilan PT. Mesitechmitra Purnabangun fi Pendopo menepis jika masalah pencemaran tersebut belum diatasi.
Tambahnya semua ganti rugi semua diberikan kepada Pemerintah Desa setempat."Sudah ada kata mufakat untuk ganti rugi. Awalnya sudah deal, tapi ada lima atau enam orang yang menolak. Dana ganti rugi tersebut sudah diberikan bantuan kepada Depala Desa," jelasnya.
Soal pipa yang usang tersebut, Muskinta menjelaskan tidak bisa diangkat dari dalam tanah karena dapat merusak jalan jika diangkat.
"Tidak bisa diangkat pipa itu, soalnyo pacak Merusak jalan, itulah makonyo kami membuat sistem booring," pungkasnya. (Hab)
| terlihat pipa yang bocor habis di las |
![]() |
| Tampak hewan bebek berwarna putih menjadi cokat akibat terkena minyak yang bocor, dan kulitnya menjadi merah-merah |
